Halloween party ideas 2015

Oleh Yepuni Giyai
Ilustrasi - Google (Ist.)
Kata “siapapun bisa jadi apapun”, artinya setiap manusia punya rencana dan tujuan masing-masing, seperti bercita-cita menjadi pilot, dokter, dan lain-lain.

Karena apa? Setiap orang punya rencana untuk melakukan program kerja di dalam keluarga, organisasi apapun, serta dalam pemerintahan.  

Tidak bisa maju dengan kemauan sendiri!

Sesuai pengalaman dalam pendidikan atau bakat yang dimiliki, seseorang “yang jelas” akan membangun daerah (kabupaten) dan melihat masyarakat setempat.

Dia akan mengarahkan di dalam pemerintahan, serta di dalam organisasi, baik membagikan pengalamannya dalam bentuk lisan dan tulisan, serta kecerdasan yang dia miliki akan dibagikan.  

Sementara, ini kehidupan kita harus memiliki sebuah senyuman dan kesadaran diri agar hidup ini dinikmati dengan baik. Kita juga harus melakukan hal-hal positif kepada orang lain di sekitar kita; untuk menjadi orang yang bisa mengatur buat orang lain dengan bakatnya di dalam masyarakat dan pemerintah setempat.

Di kalangan pemerintah dan masyarakat, kita harus mengatur mereka sesuai tuntutan zaman. Yang positif harus kita atur, bukan negatif yang mengatur kita. Jangan kami hanya diam saja. Tapi, hal positif (ilmu dan pengetahuan) yang kita miliki harus dibagikan dengan orang lain yang tidak tahu atau yang membutuhkan, supaya kita menjadi orang baik di mata Allah dengan alam, serta masyarakat setempat.

Di dalam dunia ini, banyak orang-orang hebat. Mereka dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan itu selalu bersama-sama  dan ada. Sehingga, setiap orang yang sudah menerima ilmu atau pengetahuan punya hak untuk menjadi apapun; “siapapun bisa jadi apapun”.

*) Penulis adalah Mahasiswa Unipa, Jurusan Teknik

DPO IMPT, Zakarias Wilil memimpin ibadah menyongsong UAS di Asrama Gamei Putra, Rabu (30/11) malam – Dance Mabel/Beko
MANOKWARI, MAJALAH BEKO - - Biro Kerohanian Kristen Khatolik bersama puluhan anggota Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) menggelar ibadah menyongsong ujian akhir semester (UAS), Rabu (30/11) malam di Sekretariat IMPT, Asrama Gamei Putra, Amban, Manokwari.

Ibadah bersama dengan tema “BELAJAR UNTUK MENJADI YANG TERBAIK” ini dipimpin oleh Dewan Penasehat Organisasi (DPO) IMPT, Zakarias Wilil.

Pesan Alkitab dalam ibadah ini diambil dari Injil Matius pasal 4:8; “Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya”.

Ibadah akhir bulan ini merupakan ucapan syukur kepada Tuhan dengan harapan, anggota IMPT dapat mengikuti UAS dan berjalan dengan baik.

“Jika kita tekun dengan firman, maka firman ini akan menguatkan iman kita dan terus berkarya di daerah kita masing-masing. Selamat memasuki ujian akhir semester,” kata Zakarias dalam khotbahnya.

Penguatan iman dalam menghadapi UAS juga disampaikan Ketua IMPT, Dance Mabel kepada anggotanya seusai ibadah digelar.

“Organisasi IMPT sudah mulai tua dan manusia Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah juga harus menjadi kuat dalam organisasi sesuai dengan tema. Semoga melalui ibadah ini, manusia Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah kuat dalam ujian yang dihadapi minggu besok ini,” tuturnya.

Ibadah ini berjalan dengan aman hingga usai.

(YG)

Oleh Yepuni Giyai
Penulis - Dokumen penulis
Bercita-cita selalu ada dengan harapan, diawali dengan harapan atau didasarkan harapan untuk melangkah ke depan (di dunia yang cerah) dan berjalan dengan prinsip sendiri sambil berupaya. Selain itu, berpegang pada pengalaman, baik itu berupa dorongan maupun motivasi kepada setiap orang yang baru melangkah sambil berusaha keras dalam kondisi apapun. Hal ini sebagai penentu untuk mengapai cita-cita.

Saya pikirkan kembali, bahwa masa-masa yang lalu dan sekarang, kemudian masa yang akan datang, itu kira-kira hampir sama. Hal ini akan terbayang lagi pada pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda karena zaman teknologi yang semakin meningkat. Ini juga membawa perubahan atau perbedaan besar antara zaman dulu, sekarang, bahkan yang akan datang.

Tapi, masa yang sudah lewat, itu sudah berlalu dengan pengalaman-pengalaman yang bersifat baik dan tidak baik. Pengalaman-pengalaman ini dlalui dengan semangat, kadang dalam situasi yang sangat merugikan, baik dalam organisasi maupun di luar organisasi, yang terbentuk dalam ikatan (membuat nama seseorang terkenal maupun tidak terkenal).

Untuk hal-hal yang terkait, suatu impian atau suatu cita-cita yang ada sejak kecil hingga besar, ada perubahan pilihan. Pilihan setelah besar kadang-kadang dia juga memilih salah satu dari teman-teman yang lain. Selain itu, dia mengikuti kemauan teman-teman. Artinya, seseorang dikatakan bisa terpengaruh dari lingkungan sekitar atau bisa juga pilihan itu sesuai pandang seseorang; suka menurut pemikiran dia.

Jadilah dirimu sendiri dalam bercita-cita. Pilihan berada di tanganmu; Anda yang menjalani hidup Anda. Salam!

*) Penulis adalah mahasiswa Unipa di Manokwari

Oleh Moniwatiya Gobai
Ilustrasi - Dokumen penulis
 “Koteka-Moge merupakan pakaian adat atau budaya di daerah Meeuwo (Dogiyai, Deiyai, dan Paniai), sekarang biasa dipakai saat tari-tarian (langsung). Budaya itu terus dipegang sampai saat ini (dari generasi ke generasi), karena itu kita punya budaya. Harus dipegang.”

Koteka-Moge (Kotemo) merupakan bangunan asrama (swadaya) pelajar dan mahasiswa dengan dasar moto “Meewei Meepi Anigou”, dalam Bahasa Indonesia “Mari Membangun Bibit Manusia”. Asrama Kotemo dibangun sejak tahun 1998 oleh para pendiri (senior) yang selesai dari Manokwari: Lambertus Agapa, Amos Dogomo, A.Md.Pt., Yeron Agapa, SH, Daniel Douw, SH, Silfester Dumpa, S.Pt., Yance Takimai, S.Pt., Andreas Mote, Angkian Goo, S.Pi., Petrus Dogomo, S.Pt., Karel Douw, SH, dan lain-lain.

Mereka membangun asrama ini untuk pelajar dan mahasiswa Meeuwo dengan dasar pemikiran positif; pentingnya generasi penerus. Mereka juga berjuang dengan susah payah membeli lokasi dan membangun asrama ini agar pelajar dan mahasiswa Meeuwo bisa belajar dengan baik, aman, dan terkendali (meskipun bangunannya jauh dari sebutan asrama).

Saat ini, penghuni Asrama Kotemo masih (sedang) kuliah di Universitas Papua (Unipa), Sekolah Tinggi Penguluhan Pertanian (STPP), Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan Ilmu Pendidikan (STIKIP), Sekolah Tinggi Informatika Manajemen Ilmu Komputer (STIMIK) Kreatindo, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), dan beberapa kampus lain yang ada di Manokwari, Papua Barat. Diharapkan, dari Kota Buah-Buahan ini dapat melahirkan banyak konsep-konsep yang bijaksana dan arif.

Beberapa perguruan tinggi “strategis” yang ada di Manokwari boleh dikatakan memegang peranan penting dalam menghasilkan pemikir-pemikir (ujung tombak) masyarakat dan menjadi penerang rohani yang handal masa kini dan masa depan di Meuwo (Paniai, Deiyai, dan Dogiyai).

Dulu, asrama lain belum dibangun oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Saat itu, pelajar dan mahasiswa ditampung di Asrama Kotemo saja. Setelah asrama lain dibangun, mereka (putra daerah asal Meeuwo) pindah karena tempat tinggal Kotemo terlalu sempit.

Demi pengembangan, Asrama Kotemo membutuhkan bantuan kita (para pendiri, alumni, dan pelajar-mahasiswa sekarang). Pendiri dan alumni perlu tinjau kembali hal ini. Mungkin dengan strategis membangun atau renovasi kembali Asrama Kotemo yang baru. Karena, di saat ini, kondisi asrama semakin tua (sudah lapuk-habis). Apalagi, setiap tahun banyak mahasiswa baru yang datang untuk kuliah di Manokwari. Hal ini harus diperhatikan dan dilaksanakan supaya tempat tinggal dan belajar bagi pelajar dan mahasiswa baik untuk ke depannya.

Selain itu, kami (adik-adik penghuni Kotemo sekarang) ucapkan terima kasih banyak kepada pendiri (senior) yang sudah berjuang membangun sendiri dengan susah payah Asrama Kotemo di kota studi Manokwari ini. Terima kasih, Kotemo dibangun agar kami juga belajar dengan baik hingga selesai, lalu kami kembali untuk membangun daerah kami (Dogiyai, Deiyaim dan Paniai).

*) Penulis adalah penghuni Kotemo; mahasiswa Papua, kuliah di Unipa Manokwari

Rektor Uswim, Drs. Petrus I. Suripatty, M.Si. melantik BEM Uswim periode 2016/2017, Rabu (23/11) siang di Aula FISIP Uswim Nabire - AP/Beko
NABIRE, MAJALAH BEKO - - Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (Uswim) Nabire, Drs. Petrus I. Suripatty, M.Si. melantik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2016/2017, Rabu (23/11) siang di Aula FISIP Uswim.

Pelantikan ini dihadiri 50-an mahasiswa Uswim, terdiri dari Pengurus BEM yang hendak dilantik, Abihud Gobai (Ketua), Yohanes Degei (Wakil Ketua) beserta jajaran, dan pengurus BEM fakultas.

BEM yang terpilih pada tanggal 28 Oktober 2016 ini secara resmi dilantik Rektor Uswim setelah Wakil Rektor (WR III) Uswim, Petrus Tekege, SH.MH membacakan surat keputusan (SK) dan berita acara pelantikan.

Setelah itu, Ketua dan Wakil Ketua BEM menandatangani berita acara. Rektor, WR III, beserta beberapa saksi menyaksikan langsung penandatanganan ini.

Dalam sambutannya, Petrus I. Suripatty mengatakan, BEM Uswim vakum selama 2 tahun. Menurut dia, hal ini disebabkan karena terjadi penyimpangan antara BEM tahun 2014 dengan pihak universitas.

“Kenapa sampai terjadi kevakuman? Karena, dokumen pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire yang diajukan kepada saya pada waktu itu, saya menilai bahwa terjadi semacam penyimpangan. Norma demokrasi yang seharusnya, tidak diterapkan,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Suripatty mengajak BEM Uswim kini untuk belajar dari pengalaman.

“Tetapi, bagi saya, hal-hal atau peristiwa kemarin itu menjadi pengalaman. Pengalaman itu guru yang paling baik bagi kita. Kita tidak usah mengungkit-ungkit yang kemarin, karena ketika kita terus  berada pada hari kemarin saja, kita tidak akan bisa maju-maju. Kita harus punya prinsip; hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini,” ajaknya.

Oleh karena itu, Suripatty berharap, BEM Uswim dapat mengubah mahasiswa menjadi produktif dengan program-program kerja BEM yang positif sesuai mekanisme atau norma-norma Uswim.

Menanggapi harapan rektor, Abihud Gobai mengatakan, BEM Uswim siap menampung aspirasi mahasiswa untuk dilanjutkan ke pihak universitas sesuai mekanisme yang berlaku di universitas.

“Kita terima orasi dari mahasiswa, kalau itu memang jelas, masalahnya sudah ada. Sesuai dengan mekanisme yang ada, itu kita berhak untuk sampaikan,” katanya kepada wartawan Majalah Beko seusai pelantikan.

Tambah Abihud, BEM akan menyibukan mahasiswa dengan berbagai kegiatan positif “demi Uswim yang lebih baik lagi”.

Pada kesempatan sama, Yohanes Degei menambahkan, BEM akan merangkul mahasiswa menjadi “satu Papua”; tidak ada perbedaan antara pantai dan gunung.

Pelantikan yang dikoordinir oleh Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan BEM, Alfrith Pekei ini berlangsung dengan baik hingga usai.

(AP)

Mahasiswa Katolik yang tergabung dalam IKB-PMKD se-Jatim memajangkan pernyataan sikap penolakan perubahan nama Dekenat Jayawijaya menjadi Dekenat Pegunungan Tengah - Frangky Alua
MALANG, MAJALAH BEKO - - Mahasiswa Katolik yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Katolik Dekenat Jayawijaya (IKB-PMKD) se-Jawa Timur (Jatim) membuat pernyataan sikap menolak perubahan nama Dekenat Jayawijaya menjadi Dekenat Pegunungan Tengah.

Pernyataan sikap IKB-PMKD mendukung beberapa poin yang telah disimpulkan beberapa waktu lalu oleh Tim Peduli Dekenat Jayawijaya. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut.

1) Sebutan Dekenat Pegunungan Tengah nampak ‘sangat tidak tepat’, karena secara geografis wilayah Pegunungan Tengah mencakup wilayah Keuskupan Timika dan Dekenat Pegunungan Bintang, sehingga akan sangat ‘rancuh’ dan ‘tumpang tindih’ jika diberi nama Dekenat Pegunungan Tengah, kecuali tidak ada Keuskupan Timika dan Dekenat Pegunungan Bintang tadi.
2) Perubahan nama dekenat ini juga ‘tidak diikuti’ adanya data bukti perkembangan jumlah umat dan pembangunan Gereja Katolik di wilayah Pegunungan Tengah lain, di luar Kabupaten Jayawijaya secara signifikan. 
3) Proses perubahan nama Dekenat Jayawijaya ‘tidak sama sekali’ melalui pemberitahuan dan pengumuman (sosialisasi) melibatkan umat Katolik se-Dekenat Jayawijaya, sehingga perubahannya terkesan sangat ‘sepihak’. 
4) Perubahan nama Dekenat Jawijaya ke Dekenat Pegunungan Tengah juga seakan–akan mengandung unsur ‘konspirasi’ antara Pemerintah Jayawijaya dan oknum elit Katolik tertentu untuk tujuan pemekaran daerah Provinsi Pegunungan Tengah di kemudian hari.
5) Istilah Pegunungan Tengah (gunung) selama ini sangat sarat dengan ‘stigma’ negatif terhadap orang gunung, sehingga jika menggunakan nama Dekenat Pegunungan Tengah dikhawatirkan akan terus ‘melestarikan’ stigmatisasi itu.
6) Sejak awal terbentuknya kerja Tim Peduli Gereja Katolik Jayawijaya, sama sekali ‘tidak dihargai’, karena berbagai upaya dialogis yang dilakukan seperti surat audiensi dengan Uskup Jayapura maupun pater Dekan Jayawijaya membahas latar belakang perubahan nama Dekenat Jayawijaya dimaksud selalu’ ditolak’ bahkan ‘tidak pernah’ ada balasan dan tanggapan balik.

Berdasarkan poin-poin itu, IKB-PMKD Santa Theresia Avilla Keuskupan Jayapura se-Jatim menyatakan sikap atas perubahan nama tersebut. Berikut pernyataan sikap IKB-PMKD:

1) Menolak dengan tegas perubahan nama Dekenat Jayawijaya menjadi Dekenat Pegunungan Tengah
2) Uskup segera membuka akses bagi Tim Peduli Dekenat Jayawijaya sebagai perwakilan umat Katolik Dekenat Jayawijaya

Malang, 20 November 2016

Mengetahui,
Badan Pengurus Harian IKB-PMKDJ
Ketua

Korintus Huby

(Frangky Alua/Beko)
{picture#https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/13164248_113727535703497_8788833252702763432_n.jpg?oh=5272590ac4735d37f6c572d82efc1774&oe=58AD4B8A} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#https://www.facebook.com/majalah.beko.3} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.